
Kepala Institut Nasional Alergi serta Penyakit Menyebar (NIAID) Amerika Serikat, Dr Anthony Fauci menjelaskan, beberapa orang bisa menebarkan virus corona Wuhan sebelum gejalanya ada. Hal tersebut dikatakannya berdasar satu studi baru di Jerman yang dipbulikasikan pada Kamis (30/1). Periset Jerman temukan virus corona disebarkan beberapa orang tanpa ada tanda-tanda dalam lima insiden pada satu barisan orang. Dari orangtua ke anak wanita, dari anak wanita itu ke dua rekanan kerjanya, serta dari salah satunya mitra itu ke dua rekanan kerja yang lain. “Tidak ada kebimbangan sesudah membaca makalah ini jika penyebaran asimptomatik (tanpa ada tanda-tanda) sedang berlangsung,” tutur Anthony dikutip CNN.
Hampir satu minggu, petinggi kesehatan Amerika Serikat (AS) berdebat apa satu orang bisa menebarkan virus corona selama saat inkubasi, saat mereka terinfeksi tapi belum sakit. Awalnya, Menteri Kesehatan China menjelaskan, virus bisa menebar tanpa ada tanda-tanda, tapi otoritas AS sangsi sebab otoritas kesehatan China tidak memberi bukti. Pertanyaannya penting, sebab saat penyebaran tanpa ada tanda-tanda berlangsung, petinggi kadang butuh melembagakan beberapa langkah pengaturan yang lebih menegangkan, seperti karantina yang lebih ketat. Virus corona Wuhan pertama-tama diidentifikasi di China pada Desember 2019, sudah tewaskan lebih dari 200 orang serta menginfeksi hampir 10.000 di lebih dari selusin negara di dunia.
Dalam studi yang diterbitkan di New England Journal of Medicine, periset Jerman memvisualisasikan empat rekanan usaha yang terinfeksi lewat transmisi tanpa ada tanda-tanda. Spesialis penyakit menyebar serta penulis penting makalah itu, Dr Camilla Rothe menjelaskan, rantai penyebaran diawali pada 16 Januari saat seorang wanita di Shanghai melayani orang tuanya untuk kunjungan akhir minggu. Orangtua itu sudah bertandang ke Wuhan, pusat penebaran virus korona. Mereka sehat sepanjang kunjungan mereka dengan putri mereka tapi selanjutnya didiagnosis mempunyai virus corona. Tiga hari selanjutnya, pada 19 Januari, wanita itu tinggalkan Shanghai serta terbang ke Jerman. Di hari Senin, Selasa, serta Rabu, dia membuat rangkaian lokakarya dengan karyawan perusahaan penyuplai onderdil di luar Munich. Berdasar laporan New England Journal, wanita itu sehat sepanjang lokakarya, tidak memperlihatkan pertanda penyakit. Pada 22 Januari, wanita itu terbang kembali pada China serta jatuh sakit di pesawat. Ia didiagnosis terinfeksi virus serta memberitahu perusahaan, tapi waktu itu telah telat. Pada 24 Januari, dua hari sesudah wanita Shanghai pulang, dua karyawan Jerman yang hadiri bengkelnya juga jatuh sakit.
Tidak satu juga dari mereka yang sakit awalnya. Orang pertama berumur 33 tahun yang sehat, alami demam 102,4 derajat serta merasakan sakit sepanjang beberapa waktu sesudahnya. “Ia tinggal dalam tempat tidur sepanjang akhir minggu, tapi hari Senin ia merasakan baik-baik saja,” papar Rothe. Orang ke-2 rasakan sakit tenggorokan mudah serta batuk minimum. “Ia dengan klinis tidak fantastis,” lanjut ia. Selanjutnya pada 26 Januari, hampir satu minggu sesudah wanita Shanghai menginfeksi ke-2 pria ini di bengkel, dua karyawan jatuh sakit. Karyawan ini belum hadiri lokakarya, tapi mereka sudah habiskan waktu dengan pasien Jerman pertama sebelum ia memperlihatkan tanda-tanda apa saja. Ke-2 pasien itu sakit mudah dengan sakit tenggorokan mudah serta batuk. Ke empat karyawan ini selanjutnya dipastikan positif mempunyai virus corona Wuhan. Mereka tinggal di rumah sakit bukan lantaran sakit, tapi untuk meredam penebaran virus. Webasto, satu perusahaan penyuplai mobil Jerman, mempublikasikan tayangan wartawan di situs websitenya mengenai infeksi itu. Perusahaan sesaat tutup fasilitasnya di Stockdorf, Jerman, serta menggagalkan perjalanan usaha ke China minimal untuk dua minggu ke depan.