
Virus corona Wuhan yang sekarang sudah menebar ke 27 daerah di luar China, diberitakan telah menginfeksi 28.000 orang serta lebih dari 560 wafat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga sudah mengatakan wabah itu jadi ‘darurat kesehatan global’ yang berarti betul-betul harus jadi perhatian semua negara di dunia.
John Nicholls, profesor klinis patologi di Kampus Hong Kong (HKU) menjelaskan wabah SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang disudahi pada Juli 2003, selesai waktu masuk bulan-bulan pada musim panas yang suhunya telah tinggi. Disamping itu pola hidup bersih seperti membersihkan tangan juga efisien dalam hentikan penebaran penyakit SARS yang makin meluas.
Menurut dia hal sama akan berlangsung pada wabah novel coronavirus (2019-nCoV).
Itu akan sama untuk yang satu ini,” tuturnya, diambil dari CNN.
“Menurut saya ini akan selesai sama dengan SARS, serta kelak beberapa orang akan terserang flu yang benar-benar jelek seputar lima bulan,” jelas Nicholls.
Untuk hentikan penebaran virus selanjutnya, China sudah mengkarantina negara mereka, yakni tutup semua pintu masuk di lapangan terbang, stasiun kereta api, serta bis di semua kota besar di Propinsi Hubei, tempat pertama-tama virus corona baru ini mewabah.
Walau bermacam usaha sudah dikerjakan pemerintah China, beberapa pakar virologi menjelaskan wabah novel coronavirus lebih susah dibendung bila dibanding dengan wabah SARS. Menurut Nicholls, wabah virus corona baru dengan penyebaran yang semakin besar dibanding SARS berlangsung sebab virus corona baru ini bisa menyebar pada pasien tanpa ada tanda-tanda.
Selain itu Gilead Sciences, satu perusahaan biofarmasi dengan obat remdesivir yang awalnya dipakai untuk menyembuhkan virus Ebola, sekarang bekerja bersama dengan otoritas kesehatan China untuk lihat apa obat itu bisa betul-betul melawan tanda-tanda virus corona baru.