
Kepala Instansi Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengemukakan jika laboratorium-laboratorium medis di Indonesia sudah mempunyai alat untuk menganalisis virus Corona.
Disebut jika alat ini dapat secara cepat menganalisis orang yang terjangkit virus Corona dari Wuhan, China.
Awalnya Amin, seperti diambil media-media Australia pada 31 Januari lantas, menjelaskan Indonesia belum mempunyai reagen untuk mengetahui virus Corona pada seorang yang disangka terinfeksi virus mematikan dari Wuhan, Propinsi Hubei, China itu.
Reagen ialah bahan yang dipakai dalam reaksi kimia untuk menganalisa serta mengetahui terdapatnya virus dalam darah.
Alat cukup sudah, reagennya telah ada, jadi kabar berita selain itu tidak benar,” kata Amin waktu didapati di Kantor Staf Presiden (KSP) Jakarta, Kamis (6/1/2020).
Amin mengemukakan hal itu selesai hadiri rapat pengaturan dengan Menteri Koordinator Politik, Hukum serta HAM (Menkopolhukam) Mahfud MD, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Pariwisata Wishnutama, Menteri Sosial Juliari Batubara, Menteri Analisa serta Tehnologi sekaligus juga Kepala Tubuh Analisa Pengembangan Nasional Bambang Brodjonegoro.
Menurut Amin, ada dua alat yang digunakan untuk mengetahui virus Corona, yakni Polymerase Chain Reaction atau PCR serta sequencing.
PCR dipakai untuk lihat apa keluarga dari virus corona ada di pada tubuh pasien sedang sequencing untuk pastikan apa itu virus adalah corona ataulah bukan.
“Yang memiliki alatnya lumayan banyak, tidak cuma lab perguruan tinggi dan juga faksi swasta. Tetapi swasta kan tidak teratur kontrol untuk virus Corona. Yang saya ketahui sekarang yang mengecek ialah litbangkes (Tubuh Riset serta Peningkatan Kesehatan) Kementerian Kesehatan serta ke-2 di Instansi Eijkman,” lebih Amin,
Menurut Amin, instansi Eijkman telah memiliki pengalaman dalam mengetahui virus tipe lain yang awalnya telah diisolasi. Deteksi virus corona tersebutdapat dikerjakan sepanjang beberapa saat saja.
“Kami memperoleh contoh itu bukan virusnya tetapi sisi DNA-nya saja. Jadi yang ditangani di lab kami telah divalidasi serta telah ditest kontrol positifnya benar, kontrol negatifnya benar. Jadi insyaallah hasil yg kami beri itu sebagai wakil. Jika memang tidak ada ya tidak ada,” jelas Amin.
Menurut Amin, sampel DNA itu datang dari usap hidung atau tenggorokan dari orang yang disangka mempunyai virus corona.
“Kontrol di lab beberapa saat. Tetapi umumnya dikerjakan validasi selanjutnya dilihat lagi untuk pastikan apa itu benar negatif atau benar positif. Terkadang harus mengulang , tetapi jika prosedurnya 4-5 jam telah usai,” tutup Amin.
Itu pengungkapan Kepala Instansi Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio yang mengatakan Indonesia mempunyai alat deteksi virus corona.