
Di distrik tenggara Paris yang diketahui jadi tempat arah buat mereka yang menyukai kuliner Asia, usaha alami penurunan di restoran Vietnam punya Pascal Corlier.
Ini jadi efek dari ketakutan virus corona asal China yang sudah menyebabkan kecemasan, sekaligus juga menimbulkan xenofobia (ketidaksukaan atau ketakutan pada beberapa orang dari negara lain, atau yang dipandang asing).
Beberapa konsumen setia yang resah mulai menanyakan pada staf yang bekerja, apa mereka orang China, menurut Corlier, yang ayah mertuanya dari Vietnam mengurus dapur serta menyediakan sajian tradisionil seperti sup pho. Sesaat tamu lainnya berupaya menjauh.
“Ada seperti kendala psikosis yang tidak berdasarkan di seputar komune Asia serta makanan Asia,” kata pemilik restoran, memberikan tambahan jika pendapatannya turun 40 % untuk beberapa minggu pertama 2020 dibanding dengan periode yang sama tahun kemarin.
Wabah virus yang diawali di Kota Wuhan di China tengah sudah menginfeksi lebih dari 9.800 orang – umumnya di China, tapi seputar 130 masalah di 24 negara serta daerah di luar daratan China, terhitung enam masalah di Prancis. Wabah ini sudah tewaskan 259 orang di China serta menyebabkan gelombang penetapan perjalanan serta usaha lain untuk hentikan penebaran, baik di China sendiri atau di luar negeri.
Seperti dalam masyarakat negara China, komune besar Asia di Prancis terhitung beberapa orang keturunan Kamboja serta Laos, serta salah satunya komunitsa paling besar Vietnam di luar negeri-peninggalan sisa kedatangan kolonial Prancis di Asia Tenggara.
Orang Asia di Prancis minggu ini membuat tagar Twitter #Jenesuispasunvirus ( “Saya bukan virus “) untuk menantang munculnya sikap rasial. Kejadian rasis, penghinaan serta cacian sudah disampaikan dari taman bermain sekolah sampai ke supermarket, menurut Laetitia Chhiv, yang jalankan asosiasi untuk beberapa orang muda keturunan China.
“Kami mempunyai seorang siswa asal China di Strasbourg yang disoraki seorang wanita yang menjelaskan padanya tidak untuk sentuh alpukat yang ingin dia beli,” kata Chhiv. “Itu sesudah ia menanyakan padanya darimanakah aslinya serta apa ia terjangkit virus.”
Kecemasan pada virus itu bergema di Paris dengan lain , dengan beberapa toko kelas atas yang tergantung pada kelompok-kelompok wisata China yang tidak untung saat arus pengunjung menyusut. Di sejumlah pengecer, staf menjelaskan konsumen setia Prancis menjauh, beberapa sebab takut berkawan dengan client dari Asia.
“Rasisme menantang orang Asia menebar bertambah cepat dibanding virusnya,” kata Sun-Lay Tan, yang kerja di dunia seni. Dia ialah masyarakat Prancis tetapi keturunan China dengan leluhur yang tinggal di Kamboja.
“Saya sedang duduk di metro diperjalanan ke tempat kerja serta orang di samping saya beringsut menjauh beberapa cm serta tutup mulutnya dengan syal. Saya kaget.”
Corlier, pemilik restoran, yang istrinya datang dari Vietnam, menjelaskan serta anak-anaknya merasakan stigma serta lihat beberapa orang tutupi muka mereka.
Seorang guru China dalam suatu sekolah menengah Paris yang prestise menulis surat pada orang tuanya minggu ini untuk menerangkan jika ia belum pernah melancong ke China sepanjang tahun, menurut e-mail yang disaksikan oleh Reuters.
“Beberapa orang cemas, jadi susah untuk meredamnya,” kata Corlier. “Tetapi mereka ambil langkah mundur